FESTIVAL WONG GUNUNG 2019

PEMALANG ( radartegal.com ) – Saat musim kemarau seperti sekarang, sejumlah wilayah di Jawa Tengah mengalami kesulitan air bersih. Tak terkecuali di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Namun, kondisi kesulitan air bersih saban tahun itu justru mengilhami masyarakat untuk menciptakan sebuah kreasi karya seni budaya yang mampu menyedot perhatian ribuan masyarakat. Mereka menggelar sebuah pertunjukan bertajuk Festival Wong Gunung. Kondisi warga yang kesulitan air itu kemudian digambarkan dalam sebuah pertunjukan menarik.

Jadilah, musim kemarau tidak melulu diratapi karena kesulitan air, tapi juga dikemas dalam sebuah atraksi pertunjukan budaya yang menarik dan menyedot ribuan warga untuk menyaksikannya. Bahkan, menarik wisatawan mancanegara. Tahun ini, Festival Wong Gunung 2019 merupakan yang keempat kalinya sejak 2016.

Dalam festival yang digelar di Lapangan Pulosari, Pemalang, Minggu (8/9) itu digambarkan pengambilan air dari Gunung Slamet. Prosesi ini dinamakan Ritual Agung Banyu Panguripan. Digambarkan di situ, proses pengambilan air dari lereng gunung Slamet dilakukan oleh para kesatria. Jumlahnya tujuh kesatria.

Mereka mengambil air dari tujuh sumber mata air yang ada di lereng gunung itu. Setelah itu, air yang dinamakan Banyu Panguripan itu diruwat, dikirab, dan diserahkan kepada masyarakat.

Atraksi ini sangat menarik perhatian masyarakat. Bukan hanya dari Kecamatan Pulosari tapi juga dari daerah lain. Bahkan, terlihat beberapa turis mancanegara berada di deretan tempat duduk para undangan.

Ribuan orang memadati lapangan hingga meluber ke jalan raya. Arus lalulintas sempat macet.

Festival yang sudah digelar empat kali ini semakin meriah dengan kehadiran Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Bupati Pemalang Junaedi.

Menurut Bupati Pemalang, Junaedi, awalnya festival ini hanya merupakan kegiatan seni kecil di beberapa desa. Namun sejak empat tahun lalu, digabungkan menjadi satu sehingga kegiatannya menjadi lebih besar.

Bahkan, Festival Wong Gunung ini telah menjadi agenda kegiatan kabupaten. Antusias masyarakat yang menyaksikannya pun setiap tahun terus bertambah. “Kita berharap festival ini dapat masuk dalam kalender event Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan nasional agar semakin banyak wisatawan yang datang ke Pemalang,” harap bupati.

Bupati mengakui, daerah Pulosari masih kesulitan air, apalagi bila musim kemarau. Untuk mengantisipasi, lewat program PNPM, dilakukan pengambilan air dari Gunung Slamet.

Sementara itu, Gubernur Ganjar Pranowo mengapresiasi kreativitas warga yang memunculkan Festival Wong Gunung. Dia mengakui, masyarakat Jawa Tengah adalah orang-orang kreatif yang memiliki jiwa seni tinggi.

Menurutnya, Jawa Tengah memiliki potensi budaya tradisional yang sangat berlimpah. “Bila semua ini disatukan dan dilestarikan, tentu akan menjadi kekuatan besar. Hari ini saya terkejut, kisah kesulitan air karena kemarau saja bisa jadi pertunjukan sebagus ini,” ujarnya.

Dia juga merasa bangga karena ada sebuah festival kebudayaan yang begitu menarik, digelar di daerah lereng Gunung Slamet. Ini menandakan bahwa geliat kesenian tidak hanya ada di kota-kota besar saja, namun di pelosok daerah. Ini menandakan semangat berkesenian terus tumbuh.

Menurutnya, Jawa Tengah membutuhkan banyak atraksi-atraksi kesenian semacam ini. “Selain untuk menarik wisatawan, kalau banyak pertunjukan seni, maka masyarakat akan bahagia,” tutur Ganjar.

Kesenian Kuntulan
Angklung Pulosari
Tari Kolosal Banyu Panguripan

Terkait kondisi kekurangan air bersih di Kecamatan Pulosari, Ganjar menjelaskan, bahwa saat ini program air bersih untuk Kecamatan Pulosari sudah dikerjakan oleh pemerintah pusat, dan dalam proses penyelesaian Detail Engineering Design (DED). “Saya akan kawal sendiri program ini, agar dalam 1 hingga 2 tahun ke depan, daerah ini sudah tidak kesulitan air bersih lagi,” janji Ganjar di depan ribuan warga yang memadati lapangan.

Terkait persoalan air, Junaedi juga membenarkan bahwa program penyaluran air bersih untuk Kecamatan Pulosari sudah berjalan. Tahun depan, program yang digarap pemerintah nasional itu diharapkan akan terwujud. “Kita berharap program ini nantinya bisa mengatasi persoalan air bersih yang selama ini selalu menjadi momok masyarakat Pulosari,” tuturnya.
SUMBER BERITA : radartegal.com tanggal 8 September 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *